Perwiraone.com Lampung — Pemerintah Provinsi Lampung menegaskan arah pembangunan daerah lima tahun ke depan akan difokuskan pada penguatan ekonomi desa, hilirisasi sektor pertanian, dan optimalisasi program nasional agar manfaat ekonominya tidak hanya terpusat di perkotaan. Hal itu disampaikan Gubernur Lampung melalui Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Provinsi Lampung Ganjar Jationo dalam Sarasehan bertema “Lampung Mau Dibawa ke Mana?” di Hotel Radisson Bandar Lampung, Senin (11/5/2026).
“Concern Pak Gubernur dengan Desaku Maju ini membuat program pusat tetap inline, tetapi nilai tambahnya harus bertahan di wilayah kita, khususnya di desa. Uangnya jangan lari ke kota,” ucap Ganjar saat menyampaikan sambutan mewakili Gubernur Lampung.
Sarasehan tersebut digelar oleh Serikat Media Siber Indonesia (SMSI), Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), dan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Lampung. Kegiatan menghadirkan sejumlah narasumber dari unsur pemerintah daerah, TNI, Polri, hingga Satgas Makan Bergizi Gratis (MBG) Provinsi Lampung untuk membahas arah pembangunan daerah periode 2025-2030.
Dalam paparannya, Ganjar mengatakan visi pembangunan Lampung telah diselaraskan dengan arah pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045. Pemerintah provinsi, menurutnya, menempatkan sektor pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan sebagai tulang punggung pertumbuhan ekonomi daerah.
Menurut Ganjar, Lampung tidak memiliki sumber daya tambang besar seperti sejumlah provinsi lain. Karena itu, strategi pembangunan diarahkan pada peningkatan nilai tambah komoditas pertanian melalui program hilirisasi.
Ia menyebutkan sejumlah indikator makro Lampung menunjukkan tren positif. Tingkat kemiskinan berada di kisaran 9,66 persen pada 2025 atau sudah berada di bawah dua digit, sementara inflasi tetap terkendali di rentang target pemerintah.
Selain itu, tingkat pengangguran terbuka di Lampung juga masih berada di bawah rata-rata nasional. Pertumbuhan ekonomi Lampung tercatat mencapai 5,58 persen atau menjadi salah satu yang tertinggi di Sumatera setelah Riau urainya. (***)
